Arif’s Webblog

Artikel Islami, Artikel Fisioterapi, Artikel Kesehatan Umum

Fisioterapi

Posted by arif78 pada November 25, 2007

Tendomyosis and Transverse friction

Tendomyosis merupakan suatu pemendekan dan perlengketan akibat proses penyembuhan kolagen yang tidak sempurna yang menyebabkan serabut-serabutnya saling bersilangan secara abnormal (crosslinks). Pada perlekatan dengan periosteum dimana merupakan critical zone menyebabkan proses penyembuhan lamban, terjadi proses degenerasi dan imflamasi kronis.
Tendomyosis pada nyeri pinggang sering dijumpai sebagai penyebab utama patologi, terutama pada m. quadratus lumborum, m. costolumbalis dan m. iliolumbalis yang melekat pada processus transverses VL2–3. Patologi tersebut tidak dikenal sebelumnya pada problema nyeri pinggang dalam penanganan fisioterapi.
Permasalahan yang sering muncul akibat adanya tendomyosis tersebut adalah pasien cenderung tidak bergerak untuk menghindari nyeri. Nyeri akan terprovokasi apabila otot yang mengalami tendomyosis tersebut mengalami peregangan, misalnya pada saat pasien melakukan gerakan membungkuk atau menekuk ke samping, atau peningkatan ketegangan otot yang sering tidak ditetapkan sebagai penyebab patologi.
Transverse friction merupakan metode dan teknik yang paling cocok untuk terapi dengan kondisi fibrosis perleketan otot yaitu tendomyosis.
Tes palpasi pada otot-otot yang mengalami temdomyosis dikakukan dengan cara memberikan penekanan pada bagian lateral yaitu pada daerah processus transversus VL2-3 dimana otot-otot tersebut melekat.
A. Faktor-faktor pencetus nyeri punggung bawah akibat tendomyosis
Sesuai dengan teori gerbang kontrol tendomyosis tersebut akan merangsang beberapa zat kimia seperti bradikinin dan polypeptida yang selanjutnya akan merangsang ujung saraf sensoris penghantar nyeri/nociceptor. Sinyal nyeri dihantarkan oleh serabut kecil tipe A-delta dan C. Serabut ini memasuki medula spinalis melalui radiks dorsalis, naik atau turun satu atau dua segmen di dalam traktus Lausser, kemudian berakhir pada kornu dorsalis substansia gelatinosa medula spinalis. Selanjutnya serabut tersebut menyeberang ke sisi medulla spinalis yang berlawanan dalam komisura anterior dan berjalan ke kranial menuju otak melalui traktus spinotalamikus dan spinoretikularis.

B. Transverse Friction
James Cyriax, menggambarkan penggunaan transverse friction massage sebagai teknik terapeutik yang tidak dapat dihindarkan dalam memelihara atau memulihkan mobilitas, juga benar-benar sebagai tuntutan bahwa lesi seperti tendonitis pada shoulder, elbow, hip, knee dan ankle tidak dapat diobati dengan cara lain termasuk dengan pembedahan dan suntikan steroid.
Menurut Cyriax, transverse friction memang pantas diterapkan untuk menimbulkan analgesi secara temporer sehingga menjadi alternatif lain dalam menghindari nyeri ketika dilakukan terapi.
Transverse Friction mempunyai tiga tujuan utama yaitu ; blood circulation pada tipe-tipe critical zone, yaitu terjadinya perbaikan sirkulasi darah pada otot yang mengalami tendomyosis, tujuan lain adalah break adhesion, yaitu menguraikan perlengketan, sedang tujuan yang ketiga adalah counter irritation, yaitu pengurangan nyeri sampai penghilangan nyeri.
1. Prosedur Transverse Friction pada nyeri punggung bawah akibat tendomyosis
a. Aplikasi terapi
Posisi tangan terapis sangat penting untuk mendapatkan kekuatan dan kontrol yang maksimal.
4 posisi yang dianjurkan ;
1) Jari telunjuk menyilang jari tengah,
2) Jari tengah menyilang jari telunjuk,
3) 2 jari pertama sisi dengan sisi, dan dengan jari yang berlawanan atau ibu jari,
4) Menggunakan T Bar secara hati-hati.
Teknik harus dilakukan secara langsung melintang pada tempat lesi dan tempat nyeri. Jari-jari bergerak pada kulit dan jangan sampai meleset. Teknik harus dilakukan dengan menyilang arah serabut pada jaringan yang terkena.
Cyriax menerangkan bahwa pemberian friction pada perut otot dalam keadaan rileks untuk menciptakan muscle broadening yang sama yang terjadi ketika otot berkontraksi. Tendon dapat di friction dengan tensile tension yang minimal, dan tendon dengan selubungnya harus diregangkan selama terapi untuk memutar selubung melewati tendon (break adhesion).
Salah satu efek dari transverse friction yang paling menarik adalah terciptanya anastesi (counter irritation) pada serabut mekanoreseptor yang besar akan menimbulkan inhibisi presynapsis pada spinal cord, menghambat nyeri pada serabut yang berdiameter kecil dan terciptanya concioucness. Kemungkinan juga adanya inhibisi nyeri dengan pusat transmisi. Biasanya dengan friction selama 2 menit, anastesi berawal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: